Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 25 Februari 2017

Nice Home Work #5 Learn How To Learn


MATERI: BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR


Desain Pembelajaran a la saya




Materinya yang berjudul Learning How To Learn atau Belajar Bagaimana Caranya Belajar ini pada batch sebelumnya belum saya perhatikan dengan seksama baru pada batch ini saya mulai membacanya dan berusaha memahaminya dengan baik. Materi yang aduhai “indahnya”, apalagi bila dikaitkan dengan keinginan untuk mengubah diri dan keluarga menjadi lebih baik.

Dan nice homework juga “aduhai” yaitu praktek membuat sendiri desain pembelajaran untuk diri dan keluarga terutama anak-anak sebagai amanah kita.



Dalam mengerjakan NHW5 ini saya  harus kembali menengok NHW saya sebelumnya. Karena saya memilih untuk fokus pada bidang ilmu pendidikan berumah tangga yaitu tentang manajemen diri dan keluarga. Oleh karenanya, saya akan mencoba desain pembelajaran yang sesuai dengan bidang ilmu yang saya pilih. 



A.    Desain Pembelajaran

 


1.     Pengertian Desain Pembelajaran


Desain itu sendiri diambil dari istilah dalam bahasa Inggris (design) yang artinya perencanaan atau perancangan. Desain dapat juga disebut dengan istilah planning yaitu persiapan  menyusun suatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu.

Sedangkan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Jadi dari pengertian dua kata tersebut dapat kita simpulkan bahwa pengertian desain pembelajaran adalah perencanaan pelaksanaan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar apada suatu lingkungan belajar secara terarah agar mencapai tujuan yang diinginkan.

2.     Desain Pembelajaran dalam keluarga saya


 Desain pembelajaran dalam harus disesuaikan dengan setiap karakteristik peserta didiknya dalam hal ini keluarga saya yaitu orangtua dan anak. Selain itu desain pembelajaran juga harus disusun agar mencapai tujuan yang diinginkan di dalam keluarga. Saya juga harus merumuskan strategi apa saja yang harus saya lakukan agar tujuan yang diinginkan bisa dicapai dalam keluarga saya.  Selain itu evaluasi sangat diperlukan untuk menjadi lebih baik.



B.    Desain pembelajaran Khas Keluarga





Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.  (Al Isra;84)

Ayat tersebut menurut saya sangat berkaitan dengan dengan penyusunan desain pembelajaran karena pembelajaran itu harus disesuaikan dengan keadaan peserta didiknya.

Untuk membuat desain pembelajaran khas maka harus dianalisi beberapa hal berikut ini berdasarkan 5W (What, Why, Who, Where, When) +1 H (How).  Analisis itu disesuaikan dengan peserta didik atau dalam hal ini individu di dalam keluarga saya.



1.      Desain Pembelajaran yang Gue Banget


  1. Apa yang ingin dipelajari ibu? Dari NHW sebelumnya bisa diketahui bahwa ilmu yang saya pelajari adalah tentang ilmu kerumahtanggaan dalam hal ini pendidikan keluarga.
  2. Untuk siapa desain pembelajaran ini dirancang? 

Untuk saya pribadi sebagai ibu pembelajar. 

  1. Kenapa saya harus membuat desain pembelajaran?

Pembuatan desain pembelajaran memiliki tujuan. Tujuannya untuk saya adalah untuk menjalankan amanah saya sebagai hamba ALLAH Subhanahuwata’ala sebagai seorang ibu yang profesional.

  1. Apa isi desain pembelajaran ibu? 

Desain pembelajaran saya akan berisi tentang analisis awal, “my own Personalized costumized curriculum”( kurikulum khas saya sendiri), strategi pembelajaran, indikator keberhasilan, proses pelaksanaan, evaluasi dan feedback  dll. 

Personalized curriculum adalah kurikulum yang dirancang dari kebutuhan pengembangan potensi khas untuk orang. Mengapa perlu kurikulum terpersonalisasi, itu karena tiap orang unik, tiap keluarga unik, tiap daerah juga unik, alam dan masyarakat serta kearifannya juga unik. Gaya belajar saya yang audio visual harus dimanfaatkan dalam pembelajaran agar mudah mencapainya.

  1. Dimana saya akan melaksanakan perencanaan saya ?

Desain pembelajaran iniakan dilaksanakan di rumah dan akan segera meluas ke lingkungan sekitar agar bisa memberi kebermanfaat lebih banyak lagi. 

  1. Kapan Saya Akan Belajar

Untuk tahapan ilmu ibu profesional saya akan mengaplikasikannya dalam keseharian saya. Untuk penambahan ilmu parenting dan lainnya saya akan mengikuti seminar dan membaca dari berbagai sumber ilmu.  

  1. Bagaimana cara saya merancang desain pembelajaran ? 

 
  • Menganalisis SWOT yaitu kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu pembelajaran saya pribadi
  •  Review checklist. Didalam NHW#2 saya telah membuat  checklist indikator. Checklist tersebut akan selalu direview secara berkala efektifitas dan peningkatannya.
  •  Menentukan strategi. Selain penggunaan gaya belajar, saya juga akan menyesuaikan dengan tempat nyaman dan cara belajar yang  membuat belajar menjadi lebih menyenangkan dan efektif.
  • Strategi yang saya harus lakukan telah saya temukan dalam matrikulasi ini yaitu dream it, write it, share it, do it, grow it.

2.      Aplikasi Desain pembelajaran


Setelah mendesain maka hal yang paling penting dilakukan adalah pelaksanaannya. Niat tanpa amalan adalah sia-sia. Sikap istiqomah dan konsistensi  sangat diperlukan dalam hal ini. Dalam hal ini musuh utama saya adalah diri saya sendiri.

3.      Evaluasi dan Umpan Balik


Evaluasi dilakukan secara berkala agar bisa terkontrol dengan baik pencapaian yang sudah kita lakukan. Evaluasi ini dibagi menjadi beberapa waktu yaitu:

·        Evaluasi harian yang dilakukan sebelum tidur

·        Evaluasi pekanan. Dilakukan setiap akhir minggu dengan anak dan suami.

·         Evaluasi perbulan dan per 6 bulan. memanfaatkan liburan bersama.

·        Evaluasi pertahun : bersama rapat keluarga.



Demikianlah desain pembelajaran ala saya. Wallahualam bishawab.



NHW#5_FINA FEBIYANTI_IIP BANDUNG


Kamis, 23 Februari 2017

Anak Suka Memerintah ( Bossy) Dan Cara Mengatasinya


Pernahkan anak anda berteriak seperti ini: “Bi….. ambilin minum donk, aku haus nih” “Ma…suapin dunk. Aku capek nih!”
Atau anak kita minta diambilkan mainan, padahal benda itu ada di depannya. Pulang dari jalan-jalan ia sodorkan kakinya sebagai kode minta dibukakan sepatu sandalnya. Ia tampak enggan mengerjakan sesuatau yang sesungguhnya bisa ia lakukan sendiri. Dan banyak lagi tingkahnya.
Banyak anak bertingkah layaknya seperti bos atau suka memerintah yang dilakukannya kepada orangtua, kakak atau teman sebayanya. Meskipun terlihat alami dan jujur, tapi perilaku yang suka memerintah (bossy) ini tidak bisa ditoleransi.

Penyebab Anak Suka Memerintah ( Bossy) Dan Cara Mengatasinya

  1. Penyebab anak yang bossy

Sejak kecil ada masa dimana anak balita mulai menunjukkan suka memerintah (bossy). Apalagi bila sang anak memang terlahir dengan memiliki kepribadian yang kuat, bukan karena didikkan orangtua tapi memang sifat dasar dari anak tersebut. Perilaku yang suka memerintah bisa jadi merupakan refleksi dari kepribadian yang kuat tersebut. Sifat tersebut wajar asalkan tidak menetap dan sampai menghambat pengembangan dirinya. Untuk itulah sifat-sifat khas tersebut tetap perlu diintervensi agar dapat menempati porsinya yang pas dan memberi kesempatan kepada sifat lain yang lebih baik untuk berkembang sebagai karakter anak. Untuk bisa mengatasi prilaku anak yang suka memerintah (bossy), kita harus mengetahui penyebabnya terlebih dahulu. Berikut ini beberapa penyebab dari sifak anak yang suka memerintah (bosy) diantaranya:
  • Anak Bossy karena Sifat egosentris

Suka memerintah atau bossy sebenarnya berhubungan dengan sifat egosentris seseorang anak. Egosentris adalah sikap yang umumnya muncul pada usia 15 bulanan. Pada usia ini sang anak hanya melihat sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Si kecil berempati dan tidak mampu melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain. Jadi semua masalah akan diteropong dari kaca mata dirinya. Sifat ini pula yang menyebabkan anak balita selalu “here and now.” Bila ingin sesuatu harus didapat saat itu juga alias tidak mau menunggu. Misalnya pada saat tengah malam ia minta dibelikan es krim. Dia tidak mau tahu dan harus mendapatkannya saat itu juga. Contoh lainnya ketika sedang bermain dengan temannya, si kecil merebut mainan temannya. Meski temannya menangis, ia tidak peduli karena ia berpikir bahwa “saya suka, saya mau, maka saya harus dapatkan
  • Anak Bossy karena mulai munculnya kesadaran diri (self awareness)

Balita mulai paham bahwa apa yang dikatakannya bisa mempengaruhi orang lain. Seperti, “Mba, ambilin susu” atau “Bukain sepatu.” Dia terbiasa, bahwa apa yang dia mau selalu disediakan dan dipenuhi orang lain dengan cara mudah. Misalnya, dengan menangis dia mendapatkan apa yang dibutuhkannya karena Anda segera datang melayaninya.
  • Anak Bossy karena adanya sifat otonom

Saat memasuki usia balita, anak mulai belajar untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya dengan orang dewasa. Dia sudah mulai bisa jalan, bicara, dan melakukan apa pun yang diinginkannya. Hal tersebut membuat anak merasa memiliki otonomi. Sikap otonom ini sering dibarengi dengan sikap menyuruh orang lain demi mendapatkan apa yang diinginkan.
  • Anak Bossy karena Sikap Bossy Orangtua

Sikap anak yang suka memerintah bisa “diperparah” bila ada model orang dewasa di sekitar anak yang selalu bersikap bossy, misalnya dia sering melihat anda saat menyuruh pengasuh hingga ia akan meniru apa yang anda lakukan atau anda sering memerintahnya atau saudaranya dengan sikap yang bossy. Pada masa ini anak sedang proses modeling, selalu meniru apa yang ia lihat. Jadi jangan salahkan anak anda bila anda sendiri tidak bisa memberi contoh yang baik.
  • Anak Bossy karena Kemandirian

Pada masa ini, balita seharusnya mulai diajarkan kemandirian. Namun, beberapa orangtua terkadang terlalu memanjakan anaknya. Dengan alasan anaknya terlalu kecil, mereka tidak menerapkan peraturan yang konsisten kepada si kecil. Efeknya kemandiriannya menjadi kurang dan dia akan kurang percaya diri dalam mengembangkan dirinya. Selain itu, orangtua yang tidak membiasakan anaknya mandiri akan sering melihat anaknya menjadi suka memerintah karena ketidakmandiriaanya
Bila dilihat dari perkembangan kognitif, sifat suka memerintah (bossy) akan menghilang saat usia anak 6 tahun. Karena semakin besar anak, lingkungan sosial akan menuntut anak untuk sadar akan lingkungan, selain sadar diri. Nah, pada saat usianya menginjak 3 tahun, sebenarnya anak sudah mulai sadar akan tuntutan sosial tersebut namun perlu stimulasi dari orangtua.
Yang jelas, sifat suka memerintah (bossy) tidak akan menghilang dengan sendirinya. Karena anak merasa keenakkan. Perilaku suka perintah di usia balita jadi bisa dianggap lucu. Tapi begitu anak sudah lebih besar lagi, sifat itu akan menjengkelkan banyak orang sehingga ia akan dijauhi teman-temannya.
Sifat suka memerintah (bossy) yang dibiarkan terus, tanpa mempertimbangkan adanya aturan-aturan sosial, bisa menetap sampai si kecil beranjak dewasa dan anak akan dicap buruk oleh lingkungan. Jika sifat yang suka memerintah sudah ada sejak kecil, maka akan terbawa terus hingga anak memasuki usia sekolah. Ketika bersekolah anak berusaha untuk mencari teman, namun jika sifat tersebut tidak berubah maka anak akan mengalami kesusahan untuk bisa mendapatkan teman. Hal ini bisa memicu anak melakukan kekerasan agar bisa mendapat perhatian atau bisa diterima. Kondisi tersebut akan bertambah parah bila lingkungan menolak dan menjauhinya. Jadi segeralah bertindak sebelum anak kondisi suka memerintahnya menjadi bertambah parah.
CARA MENGATASI ANAK YANG BERSIFAT BOSSY
Seperti yang diungkapkan salah satu psikolog, Indah Kumala Hasibuan, memiliki anak yang suka memerintah bukanlah akhir dari segalanya. Orangtua dapat berupaya mengatasinya dengan cara:
  • Ubah pola

Kebiasaan bossy tak mudah hilang kerana balita merasa nyaman memerintah orang lain. Perlu cara agar kebiasaan ini tak berlangsung terus-menerus. Anda perlu memperhatikan cara berkomunikasi yang baik dengan orang lain atau balita. Anda diharapkan lebih kreatif mencari bentuk kalimat-kalimat perintah. Misalnya, saat Anda meminta balita menaruh mainan pada tempatnya, Anda bisa mengatakan. “Sayang, nanti jangan lupa ya, mengembalikan mainan ke raknya.”
Bila memerintah pengasuh atau asisten rumah tangga sebaik tidak di depan si kecil. Bila terpaksa dilakukan, gunakan bahasa yang halus dan sopan. Misalnya, “Bi nanti tolong setelah mencuci, ambilkan baju yang berwarna merah ya!” dll.
  • Buat peraturan yang konsisten

Buatlah peraturan yang disesuaikan dengan tingkatan kemampuan anak anda. Kemudian berlakukan peraturan itu dengan konsisten. Meskipun memang masih agak sulit balita diberi pengertian. namun bagaimana pun di usia balita ini orangtua sudah harus menerapkan aturan-aturan disertai pengertian kepada anak bahwa tidak semua keinginan anak harus terpenuhi. Jadi, yang penting adalah aturan harus diberikan secara konsisten.
  • Jadilah teladan

Jadilah role model bagi anak anda. Kendalikan emosi anda dan jangan menampilkan sikap bossy pada siapa pun, termasuk pada pembantu rumah tangga karena si kecil akan mudah untuk bertingkah laku yang sama.
Bila anak sudah terlanjur bossy, coba bangun kemandiriannya dan dorong ia untuk mengerjakan segala sesuatu secara mandiri
Anda pun perlu mengurangi menampilkan sikap bossy Anda pada pengasuh atau siapa pun. Sejalan dengan itu, ajarkan anak kemandirian secara bertahap.
  • Ajarkan kemandirian

Dorong dia mengerjakan sesuatu yang bisa ia kerjakan sendiri. Jangan lupa memberi pujian jika ia mau melakukannya sendiri. Balita merasa berhasil menjadi anak yang mandiri. Ajarkan kemandirian (dari hal-hal sederhana) secara bertahap seperti cuci tangan sebelum makan, makan sendiri, buka sepatu dan lain sebagainya.
  • Tetap tenang dan focus

Bila sang anak mulai berperilaku suka memerintah terhadap orangtua, teman atau orang yang lebih tua, jangan memberikan reaksi apapun baik tertawa ataupun memarahinya. Tetaplah tenang dan katakan padanya untuk mengulangi permintaannya dengan cara yang lebih sopan
  • Jangan ikuti

Kemudian, jangan melakukan apapun untuk anak jika anak meminta sesuatu yang bisa dilakukannya sendiri. Terlebih bila dia memerintah dengan sikap yang kurang sopan. Tujuannya agar anak mengerti bahwa dirinya bukanlah bos yang bisa memerintah orang sesuka hatinya, terutama kepada orangtua.
  • Awasi kegiatan sosialnya



Orangtua diharapkan bisa mengawasi kegiatan sosialnya. Anak yag suka memerintah biasanya memiliki sedikit masalah dengan teman-temannya. Dia akan kurang disukai temannya karena sikapnya yang suka memerintah. Ajarkan kepadanya bagaimana berprilaku sopan dan tidak memaksakan kehendak seenaknya kepada orang lain.
  • Beri pujian dan tetap menghargainya

Jika anak mau berbagi mainan dengan temannya secara sopan berilah pujian atas perilaku baiknya tersebut. Namun, jika anak menunjukkan sikap suka memerintah di depan teman-temannya, maka jagalah emosi anda. Beritahu dia dengan cara membisikkannya bukan memarahinya. Dengan cara itu, anak merasa dihargai dan tidak merasa malu di depan teman-temannya. Tapi, jika anak tetap pada sikapnya setelah diperingati, jauhkan dia dari teman-temannya dan katakan bahwa anda akan membawanya pulang jika anak anda tidak berperilaku baik.
  • Bermain dan berkompetisi

Sering-seringlah mengajak anak anda dalam berbagai permainan kompetitif di rumah. Pupuk rasa sportifitas dan kerjasamanya dengan memasukkannya dalam tim olahraga.
  • Cari akar permasalahan

Jika anak ditinggalkan oleh teman-temannya karena terus menerus bersikap suka memerintah, jangan terlalu bersimpati. Sebaliknya cobalah untuk membantunya mengatasi kelakuan tersebut. Beri dia pengertian, cobalah untuk membuat anak terbuka terhadap anda sebagai orangtuanya, sehingga anda bisa mengetahui apa yang menjadi pemicu perilaku anak yang suka memerintah.
Demikian beberapa kiat yang bisa orangtua lakukan untuk mengatasi anak yang suka memerintah (bossy). Semoga bermanfaat :)

Sabtu, 18 Februari 2017

NHW#4 “Mendidik dengan Kekuatan Fitrah”



NICE HOMEWORK 4  

KELAS MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL BATCH#3

“Mendidik dengan Kekuatan Fitrah”


Setelah membaca dan mempelajari materi ke-4 ini saya berkesimpulan bahwa materi ini lebih menguatkan kembali pondasi kita dalam misi hidup dan bagaimana membuat perencanaan agar peran yang saya pilih bisa terlaksana dan berjalan dengan baik. Hal itu terlihat dari tugas yang diminta antara lain:

a.       Pertanyaan tentang apakah saya masih akan memilih jurusan yang sama seperti pada Nice Homework #1di Universitas Kehidupan ini?
Yups, saya tetap ingin mempelajari ilmu berumah tangga. Ilmu yang dibutuhkan untuk menjadi Ibu Profesional.
b.       Tugas untuk selalu konsisten pada ceklist di Nice Homework #2.
Whoaa, masih belum bisa nih konsisten #tutup muka. Padahal checklist ini adalah pemantas diri kita agar bisa lebih terlatih dalam ritme kehidupan. Saya berarti harus terus konsisten.
Setelah penguatan tersebut, kembali diingatkan apakah peran dan misi kita di dalam hidup ini.
  •  Misi Hidupku



Dalam kelas matrikulasi ini saya dipaksa untuk lebih mengenal diri saya, dipaksa untuk mengetahui visi dan misi hidup saya yang sebenarnya.  Apa sih pentingnya? Ternyata dalam Al Qur’an ada ayat yang mngungkapkan tentang itu.
Allah Swt berfirman :
"Wahai orang orang beriman bertawalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri mempersiapkan apa yang dipersiapkan untuk hari esok...(Q.S al Hasy: 18)
Ayat ini menunjukan kepada kita, bahwa segala aspek kehidupan kita akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanahuwata’ala.  Oleh karenanya,  hidup kita harus  diupayakan terarah, teratur dan memiliki misi spesifik yang jelas.
Menghadapi hal tersebut saya sadar bahwa saya memiliki misi agar bisa menjadi seorang ibu serta istri yang selalu berusaha melakukan yang terbaik dan mampu berkontribusi untuk mendidik orang sekitar baik dalam bentuk tulisan atau pun lisan. Bidang yang saya geluti terutama tentang keluarga atau kerumahtanggaan.
  •  Peranku dalam kehidupan

Dari misi tersebut, saya membagi peran saya menjadi 4, yaitu:
1.       Peran sebagai individu. Bagaimana saya harus bisa sebaik mungkin meningkatkan kualitas hidup saya baik dlaam dunia dan akherat sebagai ibadah saya sebagai seorang hamba Allah.
2.       Peran sebagai ibu rumah tangga dalam hal ini sebagai istri dan ibu
3.       Peran sebagai seorang anak, untuk orangtuaku dan juga mertuaku yangsaya anggap juga sebagai orangtua
4.       Peran sebagai anggota masyarakat
  • Ilmu yang diperlukan

Untuk 4 peran diatas.  Ilmu-ilmu yang diperlukan antara lain:
1.       Ilmu agama dan mengembangkan diri dan terus istiqomah meningkatkan kualitas ruhiyah
2.       Ilmu tentang manajemen rumah tangga baik pengasuhan dan pengelolaan di dalamnya
3.       Ilmu tentang berkomunikasi dengan berbagai macam orang
4.       Ilmu tentang berbagi manfaat dengan orang lain
  • Milestone

Di masa ini saya menetapkan KM 0 pada usia 34 tahun pada Februari 2016.
Sebelumnya dari usia 28 – 32 tahun fokus saya pada perkembangan terpecah antara kerja dan pengasuhan anak serta menjadi istri. Karena tidak fokus itu saya merasa semua peran saya malah menjadi kacau dan tidak ada yang tuntas. Oleh karena itu saya harus memulainya kembali dari awal.
Seperti menyiapkan istana masa depan saya, amak saya membuat perencanaan hidup saya sebagai berikut:
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Kembali fokus mengambil alih peran ibu dan istri. Mulai membangun pondasi dan struktur bangunan yang kokoh secara ruhiyah dengan mengikuti kajian dan ilmu yang berjenjang. Diantaranya dengan mengikuti perkuliahan bunda sayang serta ikut kajian akhwat.
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar kerumahtanggaan dengan pengelolaanya
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar parenting dan komunikasi
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar penulisan dan cara berbagi dengan orang lain melalui media yang tepat 

NHW#4_FINA FEBIYANTI_IIP BANDUNG