Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 22 Mei 2017

Diskusi Materi Matrikulasi #Sesi2 -- MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

Resume Diskusi Materi Matrikulasi #Sesi2 :

Fasilitator   : Itsnita Husnufardani dan Nesri Baidani
Ketua Kelas: Hani Khaerunnisa
Koord.Minggu 2: Fina Febiyanti

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA



πŸ’žπŸŒΎ Sesi Tanya JawabπŸŒΎπŸ’ž

1⃣Rina_IIPGarut❓

Profesi ibu rumah tangga di saat ini masih di pandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, meski sudah banyak juga yang memilih jadi ibu rumah tangga dan membuktikan dengan prestasi nya.
Nah, bagai mana cara memantapkan hati untuk jadi full mom, karena tak jarang niatan itu suka goyah dengan respon orang2 sekitar, terutama respon dari keluarga yang menyayangkan dengan keputusan itu.
Hatur nuhun.

Mbak Rina yg baik, sesungguhnya ada 2 posisi ibu bekerja, bekerja di ranah domestik dan ranah publik. Hanya sekarang yg dipahami umum bekerja iuptu diranah publik saja. Maka tetapkan mana yang paling sesuai dg diri mbak dan keluarga, fokus dan bersungguh-sungguhlah menjalaninya. Karena keduanya sama-sama menuntut sebuah tanggung jawab/konsekuensi. Jadilah bukti bukan menunggu bukti dari pihak lain, buat sejarah diri kita sendiri. Jika mantap, jalan terus! ✅

2⃣Meyli_IIPBogor
Tahapan utk menjadi ibu profesional itu amat panjang dan harus kontinyu. Sedangkan lingkungan sekitar kadang tak mendukung dalam proses pelaksanaan nya... bagaimana langkah kita agar tidak tetep dijalan yg kita pilih dan tdk terpengaruh godaan lingkungan yang tdk mendukung?

πŸ‘‰πŸ½Jawaban dr Mba Nesri: apakah kita yakin dengan jalan ini?
apakah kita yakin jalan ini memberi manfaat?
Jika ya, maka lakukan saja. Kita tak mungkin menyenangkan semua orang. Pasti akan selalu ada yg mencibir. Karena kita tak bisa mengendalikan omongan orang, maka merisaukannya pun tak akan berguna.✅
Mba Farda: ✊🏻sepakat sm mb Nesri, kalau istilah Bu Septi ada masanya kita kayak jadi fase bayi yang lucu..dijiwit, dijawil, digoda, nanti seiring waktu ketika menunjukkan konsistensi, semua akan berkurang dan ujiannya beda lagiπŸ˜¬πŸ˜…✅

3⃣ Susi_IIP Jepara
 Salah satu fitrah anak (sesuai video) adalah intellectual curiosity. Bagaimana cara membentuknya?
Anak-anak kita adalah digital native,  sementara kita orang tuanya baru belajar digital, bahkan masih banyak yang masih buta dunia digital. Apa trik orang tua, terkait 2 fitrah (intellectual curiosity & digital native), agar anak-anak tetap dijalur yang aman.

πŸ‘‰πŸ½Jawabannya:
Intelectual curiosity masuk dlm Fitrah Belajar anak, maka tugas kita membangkitkan gairah keingintahuannya mbak, dg art question, yg pakail 5W 1 H dg kode tangan ala bu septi dipersilakan. Sedangkan zaman anak era digital, maka ortu harus sering2 update juga. Agar selalu punya cara ada tindak preventifnya. Game saja sebulan sekali diupdate, masa ortu tidakπŸ˜…πŸ˜¬
Membangun kedekatan keterbukaan dengan anak, bs jadi kunci untuk mengantisipasi✅

4⃣Susi_IIP Jepara:
Saya tidak paham kode tangan Bu Septi, meski sudah menontonnya berkali2. Mungkin bisa dijelaskan?

πŸ‘‰πŸ½Jawaban:
Metode tangan itu bs diterapkan untuk usia anak yg sdh bs diajak diskusi mbak, jadi sebelum brgkt tour the tallent anak diajak membuat bekal pertanyaan, dan kode jari hanya memudahkan mengingat apa saja yg harus digali. Mengajak anak memahami struktur berpikir intelectual curiositynya.
Misal lihat kucing: itu apa? Ada dimana? Kapan kucing mengeong? Dst✅

Demikian Resume diskusi dari Adab menuntut ilmu, materi tentang Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga

MATERI KELAS MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL SESI 2: MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #2

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

 

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #3? Pekan ini kita akan belajar bersama
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

πŸ€APA ITU IBU PROFESIONAL?


Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak --;
Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

πŸ€APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?


Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

πŸ€MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL


1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri  ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.


πŸ€VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL


Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.


πŸ€BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?


Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :

a. Bunda Sayang

Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

b. Bunda Cekatan

Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif

Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri  ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

d. Bunda Shaleha

Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

πŸ€APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?


“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena  anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?







Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional


/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

πŸ“šSUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

Demikian materi matrikulasi IIP. Setelah pemberian materi, diadakan diskusi tentang materi tersebut. Hasil   diskusinya dapat dilihat di artikel diskusi sesi 2 menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga

⚜ Diskusi Materi Matrikulasi #Sesi1 -- Adab Menuntut Ilmu ⚜

Diskusi Materi Matrikulasi #Sesi1 -- Adab Menuntut Ilmu
Tanggal                  : 23 Januari 2017
Fasilitator               : Itsnita Husnufardani dan Nesri Baidani
Ketua Kelas            : Hani Khaerunnisa
Koord. Minggu I     : Ira Silvera


Diskusi Materi Matrikulasi #Sesi1: Adab Menuntut Ilmu

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #1


πŸ™‹ ADAB MENUNTUT ILMU πŸ™‹



Sesi Tanya Jawab

1⃣ Liza - IIP Pekanbaru

Apa contoh kecil dan paling nyata dlm mengamalkan adab sebelum Ilmu (yg bisa segera dilaksanakan dan dijadikan kebiasaan awal), dan bagaimana cara menularkan kebiasaan tersebut kepada anak-anak? Umur berapa sebaiknya anak-anak mulai dikenalkan tentang adab (tata krama/etika)?

Mbak Farda :
➡ Bunda Liza yg baik, menularkan adaba cara terbaik dg memberikan dan mengedepankan keteladanan didepan anak. Mendidik adab sebaiknya selalu dibarengi dg tumbuh paripurnanya Fitrah terlebih dahulu, maka pahami tahapan fitrah bertumbuhnya hingga usia 7 tahun idealnya adab bisa ditegakkan tanpa mengesampingkan fitrahnya tumbuh. Contoh paking kecil dlm kehiduoan sehari, adab makan, minum tidur, masuk kamar mandi dll yg dicontohkan dan diajak meneladi dr perilaku ortunya lebih dahulu✅

2⃣ Susi - IIP Jepara

Saya suka memotret kegiatan komunitas, pemandangan alam, bunga-bunga, juga hal-hal kecil di sekitar atau selama perjalanan. Saya membaginya di media sosial. Untuk foto kegiatan, biasanya saya kirimkan ke WA teman-teman dan silakan bagi pakai. Lebih seringnya tanpa kredit atau menyebutkan nama saya. Saya ikhlas. Banyak foto bunga, alam, pemandangan dan lain-lain saya bagi bebas di media sosial tanpa menyertakan tanda atau watermark. Buat saya itu cara saya berlatih fotografi dan berlatih ikhlas. Salahkah apa yang saya lakukan? Karena beberapa teman justru berkali-kali mengingatkan bahwa cara saya salah dan rawan dicuri, sementara saya tidak merasa kecurian. Saya malah senang saja jika ada yang memakai. Apakah saya menyalahi adab ilmu?

Mbak Farda :
➡ Mba Susi yg kreatif, hal yang disampaikan mba Susi merupakan bentuk profesionalitas dalam menghargai hasil hak karya kekayaan intelektual  (HAKI). Maka saran untuk menambah watermark dsb bentuk apresiasi atas karya pribadi untuk mencegah penyalahgunaan jangka panjang, dan jika memang di bebas-gunakan sebaiknya bisa dipahami apa kemungkinan jangka panjang peluang masalah yg akan muncul.✅

3⃣ Ami - IIP Sulawesi.

Mau tanya soal copas status menarik di FB. terkadang tulisan2 bagus dicopas tanpa sumber. kita harus bgmn menanggapinya?mencoba mencari penulisnya pun tidak ditemukan. tetapi terlalu sayang jika tidak di share, karena tulisannya menarik... 😁😁😁

Mbak Nesri :
➡simpan saja untuk diri sendiri sambil ikhtiar mencari penulisnya. Gunakan semua fitur search, selama dia menuliskannya di internet, pasti ada jejaknya.

4⃣ Ira - IIP Surabaya

Dalam menuntut ilmu terkadang kita punya beberapa guru. Bagaimana menyikapi jika ada ilmu yang saling bertentangan, sedangkan kita gak berani mau konfirmasi ke guru tersebut krn takut nanti gak disenangi guru tersebut.

Mbak Nesri :
➡Ini mengingatkan saya pada sebuah kisah tentang Imam Malik. Awalnya beliau berpendapat bahwa tidak perlu membasuh sela-sela jari kaki saat wudhu. Namun kemudian ada seseorang yang membawa hadis shahih yang menyebutkan bahwa Rasulullah melakukannya, maka Imam Malik pun mengubah pendapatnya...

Saya pikir, seorang ahli ilmu selalu terbuka terhadap pendapat orang lain. Apalagi jika orang tersebut mengedepankan adab dalam berdiskusi dan bertanya. Jadi menurut saya, konfirmasikan saja, tentu dengan mengedepankan adab bertanya sebagai murid. Yang perlu dihindari adalah debat kusir yang berkepanjangan.πŸ™πŸ»

5⃣Ira - IIP Surabaya

Apa batasan murid Kritis vs murid Tidak Beradab?

Mbak Nesri :
➡murid kritis mengedepankan adab dalam menuntut ilmu baik dalam bertanya maupun menerima ilmu.

6⃣ Hani_IIP Tangsel

Dalam menuntut ilmu, ada kalanya sebagian murid dalam satu angkatan mengalami percepatan dalam menginjak tahapan berikutnya dari suatu institusi/komunitas.
Apakah dibenarkan bila sebagian murid tersebut 'meninggalkan' begitu saja institusi/komunitas yang telah menaunginya sebagai penghantar menuju jalan percepatan tersebut?

Mbak Nesri :
➡menurut mbak Hani gimana?
Menurut saya, klo bicara soal adab, kita tidak bicara tentang benar dan salah, melainkan tentang baik dan buruk.
Saya teringat kata-kata ayah saya, sekali guru selamanya guru. Walaupun kita mungkin sudah beda pendapat dengan guru kita, namun beliau tetap guru kita. Jadi walaupun kita sudah pergi lebih dulu karena sudah selesai menuntut ilmu di satu tempat, bukan berarti kita meninggalkan lalu tak memperdulikan. Karena, bagaimana pun kita pernah mendapat ilmu dari situ.

7⃣ Suci - IIP Bandung

Ada beberapa pertanyaan mb:
1. Duduk paling depan di majlis ilmu online itu prakteknya seperti apa ya?

Mbak Nesri :
➡dalam majelis ilmu online, ada waktu-waktu tertentu dimana materi dibagikan, diskusi dilaksanakan, dan waktu bertanya. Selalu hadir tepat waktu, dan berkontribusi aktif menunjukkan kita berada "di deretan paling depan"πŸ˜ŠπŸ™πŸ»

2. Dalam kelas matrix link guru kita disini para fasil yaa?
➡Fasilitator bukan guru melainkan pendamping belajar. Kita belajar bersama disini. "You know better, let me hear", jadi jangan ragu berbagi ilmu disiniπŸ™πŸ»

3. Tdk boleh menyimpan buku yg sedang dipelajari sembarangsan, knp? G dosa kan yaa klo lupa2 nyimpen gituu 😬
➡hmmm....saya ga punya alasan logisnya, mbak...maaf, butuh penelitian kayanya, hubungan antara meletakkan buku dengan keberkahan ilmu😬

Ketika saya kecil, ayah saya mengajari cara membawa buku, cara meletakkan buku, cara memperlakukan buku. Menurut beliau, buku adalah sumber ilmu, jika ingin ilmu kita berkah, maka kita harus pelihara baik-baik sumber ilmu. Sampai sekarang beliau selalu merawat buku-bukunya tanpa kecuali. Dan alhamdulillah, menjadi salah seorang tempay bertanya di bidang yang digelutinya. Apakah ini ada hubungannya dengan cara beliau memperlakukan buku sebagai sumber ilmu? Wallahu a'lamπŸ™πŸ»

8⃣ Nur Hayati -- IIP Depok

Bagaimana Cara utk mengatasi mindset anak yg sudah terlanjur terbentuk oleh lingkungan (Sekolah n keluarga) bahwa ilmu yg didahulukan.
Misal, anak di Sekolah terbiasa mendapat reward point di kelompoknya jika kelompoknya itu berhasil menjawab pertanyaan guru... Nahhh karena ingin mendapat point, Kadang anak buru2 Lomba utk lebih dulu menjawab sebelum guru selesai me back and pertanyaan. Nahhh dari situ,  anak terbiasa "lomba"  tdk menunggu/orang selesai me jelas Kan.

Mbak Farda :
➡Maka, ulangi proses pemaknaan ulang tentang apa itu belajar mbak. Jika anak sudah bisa diajak berkomunikasi dua arah, maka lakukan pemahaman ulang.

Mbak Nesri :
➡ hmmm....butuh kerjasama dengan pihak sekolah nih, bun...
Menariknya, adab itu tidak bisa dipelajari, ia hanya bisa diteladankan. Jadi, menurut bunda Nurhayati, apa yang sebaiknya dilakukan? πŸ˜‰

9⃣ Dewi - IIP Lampung

Hanya bisa diteladankan. Berarti utk mengatasi anak2 di rumah yg selalu membiarkan buku berserakan setelah dibaca,  hanya dengan dicontohkan ya mbak nes? Kadang2 di rumah suka stress dengan masalah buku berserakan ini. Klo suami sih menghiburnya dgn bilang itu artinya bukunya dibaca bunda.. Jd berpikir ulang,  jgn2 saya selama ini sudah menjadi contoh yg tidak baik dlm hal menghormati buku..

Mbak Farda :
➡ Kita kembalikan pd usia anak, jika anak yg suka menyerakkan buku masih dibawah 6 tahun, maka tidak ada tanggung jawab moral. Keteladanan orangtua yg paling penting dan utama. Kuncinya sabar mengulang menunjukkan keteladanan.πŸ˜„✊🏻

Mbak Hani :
➡ Kalau saya sih, tergantung umur anak. Bila Balita, setelah diajak membaca buku, biasanya saya/ayahnya berucap: Alhamdulillah..sudah selesai.. Yuk, kita beresin bukunya yuukk... Coba Kak/Dik, tolong simpan bukunya di rak/lemari. (Sembari diantar menuju rak/lemari buku, bukunya dia yang pegang untuk disimpan).

Kalau umur yang lebih besar, sebelum memegang sesuatu barang, diingatkan untuk setelahnya disimpan/dirapikan kembali.

Semua anak tidak langsung menurut di awal-awal, memang harus diberi contoh berulang kali sambil tetap diingatkan. Kalau masih tidak mau juga, anak harus mulai diterapkan reward and punishment sesuai usianya.

πŸ”Ÿ Nunung Syayidah

Mbak Nesri saya mempunyai adik dan saya mengajarkan adab terlebih dahulu semenjak saya mengambilnya,ketika adik saya itu berhadapan langsung dengan saya dia mengamalkan adab yg saya ajarkan, tetapi dikala dia berhadapan dengan teman atau masyarakat adab itu hilang begitu aja hingga saya memutuskan dalam setahun ini dia tdk sekolah dulu setahun pertanyaannya apakah tindakan saya salah, dan harus gimana? terimakasih mba.

Mbak Nesri :
➡ wa'alaikumsalam...
menarik banget urusan adab ini ya...iya hanya bisa diteladankan, lalu terus dilatihkan, saya khawatir, punishment bukan solusi dalam pendidikan adab...wallahu a'lamπŸ™πŸ»

1⃣1⃣ Faiza -- IIP jakarta

Sejauh mana seorang anak dapat ditoleransi kebosanannya di saat menghadiri majlis ilmu secara offline? Memaklumi usianya yg masih dini dan kemampuan konsentrasinya yg masih terbatas, di sisi lain ingin dengan tenang menyimak guru..

Mbak Farda :
➡ Mbak Faiza, anak memiliki rentang perhatian 1 x usia nya. Jadi jika usia anak 5 tahun maka rentang fokusnya 5 menit itu sdh sangat baik, maka ibunya bisa melatih rentang konsentrasinya bertahap, dan disiapkan mainan selama ibunya bermajelis. Namun, jika dirasa tingkah sikecil sudah mengganggu keamanan dan kenyamana ruangan terutama kondusifnya acara, maka ikhlaskanlah. Kemuliaan anak dihadapan orang lain jauh lebih penting dibandingkan ilmu yg kita dapat. Jangan jadi ibu yang egois. Bisa dipahami adab mencari ilmu bagi ibu beranak. ✅

Ini tulisan Bu Septi, silakan dipahami diresapiπŸ‘‡πŸ»

Farda IIPSby:


ADAB MEMBAWA ANAK KE MAJELIS ILMU


Seorang ibu yang semangat menuntut ilmu tentu saja segala rintangan akan dihadapinya untuk mendapatkan ilmu tersebut. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kalau kita memiliki anak kecil-kecil, yang tidak bisa ditinggal.Mari kita pelajari adabnya :


1. Tanyakan ke penyelenggara apakah kelas ini mengijinkan anak-anak masuk diruangan atau tidak?

DON'T ASSUME

misal :
"Ah, pasti boleh, ini kan komunitas Ibu-ibu/keluarga dan pasti punya anak kecil, jelas boleh lah"

ini ASSUME namanya.

harus di CLARIFY (klarifikasi) di awal. Tidak semua guru ridha kelasnya ada anak-anak dengan berbagai alasan kuat. masing-masing.


2. Apabila tidak diijinkan anak-anak di dalam kelas, maka kita tidak boleh memaksakan diri. Memilih alternatif untuk tidak berangkat, kalau memang tidak ada kids corner atau saudara yang dititipi.



3. Apabila diijinkan, maka kita harus tahu diri, tidak melepas anak begitu saja, berharap ada orang lain yang mengawasi, sedangkan kita fokus belajar, ini namanya EGOIS. Dampingi anak kita terus menerus, apabila anda merasa sikap dan suara anak-anak mengganggu kelas, maka harus cepat tanggap, untuk menggendongnya keluar dari kelas, dan minta maaf.

Meskipun tidak ada yang menegur, kita harus tahu diri, bahwa orang lain pasti akan merasa sangat terganggu. Jangan diam di tempat, hanya semata-mata kita tidak ingin ketinggalan sebuah ilmu.

KEMULIAAN ANAK KITA DI MATA ORANG LAIN, JAUH LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN ILMU YANG KITA DAPATKAN.

Maka Jaga Kemuliaannya, dengan tidak sering-sering membawa ke forum orang dewasa yang perlu waktu lama. Karena sejatinya secara fitrah rentang konsentrasi anak hanya 1 menit x umurnya.

Untuk itu andaikata kita punya anak usia 5 tahun, menghadiri majelis ilmu yang perlu waktu 30 menit, maka siapkan 6 amunisi permainan atau aktivitas yang harus dikerjakan anak-anak. Kalau ternyata anak cepat bosan dari rentang konsentrasinya, segera undur diri dan fokus ke anak kita.✅

1⃣2⃣ Meyliani - IIP Bogor

Assalamualaikum... Meyliani_IIP bogor
Pertanyaan serupa dengan mba nunung, cm kasusnya anak sy umur balita, jika dirumah sdh terbiasa dengan adab sehari2 yg sederhana.. tp ketika nginep dirumah nenek atau uyutnya pulang kerumah langsung lupa dan sulit diarahkan lg... apa sebaiknya yg disampaikan pd org tua soal adab pd anak, krn mereka pnya pola pikir yg cendrung membebaskan asal ank anteng...

Mbak Farda :
➡ Waalaykumsalam, mb Meyliani.
Maka perlu mengkondisikan si anak dulu sebelum menuju rumah uti uyutnya, beri bekal dudukan awal, pemahaman bahwa adab keseharian tetap berjalan diamanapun kita berada. Dibelakang stage, kita perlu rangkul uyut utinya juga agar seirama dalam menyeting kondisi. Sampaikan dg baik. Kami menyebutnya dinas tugas luar negeri, kalau uti uyut dari dari kita, maka kita yang menyampaikan, tapi jika dr pihak suami, maka biar Ayah yg menyampaikan, agar pendidikan 3 generasi selaras. Perlu waktu, kesabaran dan konsistensi.








Demikian Resume diskusi dari Adab menuntut ilmu, materi tentang Adab menuntut ilmu bisa dilihat di Materi Adab Menuntut Ilmu

⚜ Materi Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #1 Adab Menuntut Ilmu⚜

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #1

ADAB MENUNTUT ILMU


Disusun oleh Tim Matrikulasi - Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya


☘ADAB PADA DIRI SENDIRI


a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.


☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)


a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU


a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan "sceptical thinking" dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015


Demikian materi matrikulasi IIP. Setelah pemberian materi, diadakan diskusi tentang materi tersebut. Hasil   diskusinya dapat dilihat di artikel diskusi matrikulasi adab mencari ilmu.