Nice HomeWork #10
Membangun Komunitas Membangun Peradaban
Rumah adalah miniatur peradaban. Dari dalam rumahlah
akan muncul sebuah peradaban yang ditentukan oleh individu-individu yang telah
terpenuhi potensi fitrah-fitrah baiknya, bila itu terjadi maka semuanya akan
menjadi baik dan peradaban pun menjadi mulia.
Untuk memenuhi potensi fitrah baik tersebut, maka
diperlukanlah pendidikan. Pendidikan adalah tanggung jawab keluarga dan
komunitas, karena keluarga dan komunitaslah yang paling paham peran yang paling
bermanfaat untuk dirinya. Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengembalikan
keluarga dan komunitas yang kita bangun sebagai sentra pendidikan peradaban.
Tahapan Membangun Peradaban Dalam Komunitas
Untuk membangun peradaban diperlukan tahapan-tahapan
tertentu. Tahapan-tahapan tersebut, yaitu;
Tahap menemukan misi individu
Setiap manusia dilahirkan dengan karakteristik yang
unik, maka tugas dan peran yang akan dijalaninya di muka bumi ini juga pasti
unik. Setiap individu diciptakan kedua dengan memiliki misinya sendiri. Bila
kita telah menemukan misi individu maka dilanjutkan dengan tahap selanjutnya.
Tahap menemukan misi keluarga
Setiap individu yang berkumpul dan memiliki keluarga
seharusnya memiliki misi keluarga. Misi keluarga bisa jadi misi bersama yang
menjadi ke-khas-an setiap keluarga. Misi keluarga ini bisa jadi kombinasi dan
dominasi dari sifat keunikan ayah, ibu dan anak. Di titik ini kita paham, apa
rahasia besar Allah mempertemukan kita (suami dan anak-anak) dalam satu
keluarga.
Tahap menemukan misi peradaban dari sebuah komunitas
Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas
yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis
yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak". Jadi, komunitas adalah sekelompok individu-individu
yang memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko,
kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang sama.
Dalam komunitas semua orang merupakan bagian dari komunitas dan saling
terhubung dengan keragaman interaksinya.
Di dalam komunitas Ibu Profesional setiap anggotanya
merasa telah memiliki chemistry meskipun belum pernah saling ketemu muka,
karena sebenarnya kita sedang membawa misi peradaban yang sama. Yaitu membangun rahmat bagi semesta alam lewat dunia pendidikan
anak dan keluarga. Karena...
It takes a Village to raise a CHILD
Perlu orang sekampung untuk membesarkan anak
Perlu orang sekampung untuk membesarkan anak
Dengan adanya komunitas ini, diharapkan kita bisa
membangun lingkungan yang mendukung perkembangan anak dan keberkahan keluarga
kita. Untuk itu, di dalam sebuah komunitas hendaknya kita berbagi dan melayani,
bukan menuntut. Oleh karenanya, kita diharapkan bisa memulai dari dari diri
kita, berbagi apa yang kita miliki dan berniat melayani komunitas, bukan untuk
mencari popularitas, atau bahkan untuk memenuhi kepentingan diri sendiri.
(Diadaptasi dari materi matrikulasi IIP)
Saya dalam komunitas Institut Ibu Profesional (IIP)
Awal pertama
Pertama kali saya bertemu komunitas IIP adalah saat
saya mengalami kegalauan luar biasa. Apakah tetap bekerja atau resign. Bingung antara keluarga dan anak, apalagi
komunikasi dengan suami dan keluarga belumlah baik. Bila resign, otomatis saya tidak akan bisa membantu keluarga tercinta,
namun bila tidak resign, my syamshine jadi korbannya. Hati benar-benar ingin resign, apalagi kondisi special yang dimiliki Syamshine sehingga mengharuskan saya untuk resign segera. Tapi bagaimana dengan keluarga?
Waktu itu saat saya baru bergabung dengan
komunitas ini, ada kulwap tentang
komunikasi efektif dengan pasangan dan keluarga. Masyaallah, seperti dibukakan mata saya. ALLAH telah memberi
pencerahan lewat komunitas ini untuk lebih berani berkomunikasi efektif kepada
setiap pihak agar bisa resign dengan win
win solution pada semua pihak. Segera
saya perbaiki komunikasi dengan suami tersayang, alhamdulillaah akhirnya beliau mengizinkan dan memberi solusi untuk
keluarga saya. Allahuakbar , akhirnya
saya resign. FIX tidak maju mundur
lagi seperti sebelumnya.
Dimulailah perjalanan saya dalam
membersamai syamshine sambil menimba
ilmu di IIP. Komunitas ini telah mampu
memperkaya dan membuka pikiran saya tentang dunia yang lebih luas lagi dari
sisi seorang ibu. Komunitas yang menekankan bahwa semua ibu itu bekerja, ada
yang bekerja di ranah domestik ada juga yang di ranah sosial. Masing masing
harus bisa memegang perannya dengan baik hingga bisa tetap menjalankan
amanahnya menjadi Ibu Profesional. Ibu yang harus menyelesaikan amanahnya di
rumah dulu dengan baik. Rizki itu pasti dan kemuliaan sebagai seorang hamba ALLAH untuk menjalankan amanah-Nya itu
yang dicari.
Di IIP saya merasa lebih nyaman, bertemu
dengan sesama Ibu dari berbagai macam background
namun sama-sama sedang berjuang membimbing
buah hati menjadi generasi yang ber-ahlakul
kharimah dan memiliki keluarga yang sakinah,
mawadah, warohmah. Komunitas yang anggotanya secara welcome mau
menerima dan mau berbagi pengalaman serta ilmu mereka.
b. Menjadi Fasilitator
Setahun yang lalu sekitar bulan Agustus,
secara tiba-tiba saya diminta oleh teman-teman fasil untuk menggantikan teman
yang mengundurkan diri karena alasan keluarga. Ya, di IIP kami diperbolehkan
mengundurkan diri sebagai fasilitator bila keluarga terutama anak dan suami
tidak mengizinkan. Karena, di dalam IIP izin dan ridho suami adalah keberkahan
bagi seorang istri dalam menjalankan kegiatannya. Untuk menyanggupinyapun, saya
harus mengantongi izin dari suami J
Waktu itu saya diminta menjadi Penanggung
Jawab Master Mind. Terlihat simple pekerjaannya, apalagi bila
dibandingkan dengan amanah teman-teman yang lainnya, namun ternyata banyak hal yang saya temui di
lapangan eh di udara alias online. Berikut beberapa hal yang saya temui:
- Kondisi member dalam komunitas IIP Bandung
Bandung adalah kota yang potensial untuk maju
dengan pesat. Banyak sekali komunitas-komunitas positif yang ada di Bandung. Sikap
mau belajar dan haus ilmu terlihat sangat menonjol. Latar belakang member pun membuat
dinamika tersendiri di dalam interaksi member meskipun itu cuma di dunia maya.
- Tantangan-tantangan yang dihadapi saat menjadi PJ MM:
a.
Kondisi member berbeda-beda sifat dan sikap merupakan
tantangan tersendiri. Karena, dalam dunia maya, terkadang perbedaan pengertian
dari bahasa tulisan tiap orang bisa menjadi pemicu salah paham.
b.
Beberapa member yang tidak tepat waktu dalam
menyetorkan Master Mind terkadang membuat saya harus mundur juga membuat resume dan akhirnya terlupa karena
kesibukan saya yang lain (#manajemen waktu yang perlu diperbaiki)
c. Sifat saya pribadi yang mudah empati menyebabkan saya menghabiskan
waktu untuk obrolan pribadi tempat curhat tapi saya menyukai aktifitas ini,
namun terkadang syamshine jadi terabaikan. (lagi-lagi ketegasan dan
manajemen waktu perlu saya perbaiki)
- Bakat yang sudah Allah berikan untuk saya, sehingga mendapatkan amanah ini . Setelah menelaah ST-30 saya pada NHW 7 ,saya menyimpulkan ptensi saya sebagai care taker yang berempati tinggi, comunicator dan educator lah yang menempatkan saya sebagai PJ MM.
- Di dalam komunitas, bakat yang saya miliki itu saya gunakan untuk memajukan orang lain agar bisa sama-sama maju kearah yang psitif dan memotifasi mereka untuk bisa mengoptimalkan potensinya masing-masing.
- Tahun depan, karena Master Mind sudah tidak diadakan lagi, saya ingin merintis membuat rumah belajar untuk ibu-ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus agar lingkungan dan juga anak-anak bisa terbuka terhadap anak berkebutuhan khusus. Menularkan energi positif yang kepada mereka agar tetap berjuang demi amanah yang mereka emban dari ALLAH. Karena "Allah tidak akan membebani kaumnya, melebihi kemampuannya"
Demikian aliran rasa yang saya miliki, saya
merasa kontribusi saya dalam komunitas Institut Ibu Profesional memang
belum maksimal. Apalagi saya masih fokus pada penataan di dalam iri dan keluarga
saya sendiri. Seperti yang program Matrikukasi ini ajarkan, selesaikan dulu
amanah di dalam baru keluar, sehingga kebermanfaatan dimulai dari diri pribadi,
keluarga dan baru keluar rumah utnuk menyebarkan kebermanfaatan kepada
masyarakat yang lebih luas lagi. Inside out.
Semoga ke
depannya, saya bisa mensinergikan misi spesifik diri, misi keluarga dan misi
komunitas. Saya bisa menjalankan amanah yang ALLAH berikan baik sebagai
hamba-Nya, sebagai ibu, sebagai istri dan anggota masyarakat dengan
sebaik-baiknya. Aamiin.
NHW#10_Fina Febiyanti_IIP
Bandung
0 komentar:
Posting Komentar