Pages

Jumat, 31 Maret 2017

Nice HomeWork #10 Membangun Komunitas Membangun Peradaban


Nice HomeWork #10

Membangun Komunitas Membangun Peradaban



Rumah adalah miniatur peradaban. Dari dalam rumahlah akan muncul sebuah peradaban yang ditentukan oleh individu-individu yang telah terpenuhi potensi fitrah-fitrah baiknya, bila itu terjadi maka semuanya akan menjadi baik dan peradaban pun menjadi mulia.

Untuk memenuhi potensi fitrah baik tersebut, maka diperlukanlah pendidikan. Pendidikan adalah tanggung jawab keluarga dan komunitas, karena keluarga dan komunitaslah yang paling paham peran yang paling bermanfaat untuk dirinya. Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengembalikan keluarga dan komunitas yang kita bangun sebagai sentra pendidikan peradaban.

  1. Tahapan Membangun Peradaban Dalam Komunitas




Untuk membangun peradaban diperlukan tahapan-tahapan tertentu. Tahapan-tahapan tersebut, yaitu;
    1. Tahap menemukan misi individu

Setiap manusia dilahirkan dengan karakteristik yang unik, maka tugas dan peran yang akan dijalaninya di muka bumi ini juga pasti unik. Setiap individu diciptakan kedua dengan memiliki misinya sendiri. Bila kita telah menemukan misi individu maka dilanjutkan dengan tahap selanjutnya.
    1. Tahap menemukan misi keluarga

Setiap individu yang berkumpul dan memiliki keluarga seharusnya memiliki misi keluarga. Misi keluarga bisa jadi misi bersama yang menjadi ke-khas-an setiap keluarga. Misi keluarga ini bisa jadi kombinasi dan dominasi dari sifat keunikan ayah, ibu dan anak. Di titik ini kita paham, apa rahasia besar Allah mempertemukan kita (suami dan anak-anak) dalam satu keluarga.
    1. Tahap menemukan misi peradaban dari sebuah komunitas

Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak".  Jadi, komunitas adalah sekelompok individu-individu yang memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko, kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang sama. Dalam komunitas semua orang merupakan bagian dari komunitas dan saling terhubung dengan keragaman interaksinya.

Di dalam komunitas Ibu Profesional setiap anggotanya merasa telah memiliki chemistry meskipun belum pernah saling ketemu muka, karena sebenarnya kita sedang membawa misi peradaban yang sama. Yaitu membangun rahmat bagi semesta alam lewat dunia pendidikan anak dan keluarga.  Karena...

It takes a Village to raise a CHILD 
Perlu orang sekampung untuk membesarkan anak


Dengan adanya komunitas ini, diharapkan kita bisa membangun lingkungan yang mendukung perkembangan anak dan keberkahan keluarga kita. Untuk itu, di dalam sebuah komunitas hendaknya kita berbagi dan melayani, bukan menuntut. Oleh karenanya, kita diharapkan bisa memulai dari dari diri kita, berbagi apa yang kita miliki dan berniat melayani komunitas, bukan untuk mencari popularitas, atau bahkan untuk memenuhi kepentingan diri sendiri.
(Diadaptasi dari materi matrikulasi IIP)

  1. Saya dalam komunitas Institut Ibu Profesional (IIP)

 

    1. Awal pertama

Pertama kali saya bertemu komunitas IIP adalah saat saya mengalami kegalauan luar biasa. Apakah tetap bekerja atau resign.  Bingung antara keluarga dan anak, apalagi komunikasi dengan suami dan keluarga belumlah baik. Bila resign, otomatis saya tidak akan bisa membantu keluarga tercinta, namun bila tidak resign, my syamshine  jadi korbannya. Hati benar-benar ingin resign,  apalagi kondisi special yang dimiliki Syamshine sehingga mengharuskan saya untuk resign  segera. Tapi bagaimana dengan keluarga?

Waktu itu saat saya baru bergabung dengan komunitas ini,  ada kulwap tentang komunikasi efektif dengan pasangan dan keluarga. Masyaallah, seperti dibukakan mata saya. ALLAH telah memberi pencerahan lewat komunitas ini untuk lebih berani berkomunikasi efektif kepada setiap pihak agar bisa resign dengan win win solution pada semua pihak.  Segera saya perbaiki komunikasi dengan suami tersayang, alhamdulillaah akhirnya beliau mengizinkan dan memberi solusi untuk keluarga saya. Allahuakbar , akhirnya saya resign. FIX tidak maju mundur lagi seperti sebelumnya.

Dimulailah perjalanan saya dalam membersamai syamshine sambil menimba ilmu di IIP. Komunitas  ini telah mampu memperkaya dan membuka pikiran saya tentang dunia yang lebih luas lagi dari sisi seorang ibu. Komunitas yang menekankan bahwa semua ibu itu bekerja, ada yang bekerja di ranah domestik ada juga yang di ranah sosial. Masing masing harus bisa memegang perannya dengan baik hingga bisa tetap menjalankan amanahnya menjadi Ibu Profesional. Ibu yang harus menyelesaikan amanahnya di rumah dulu dengan baik. Rizki itu pasti dan kemuliaan sebagai seorang hamba ALLAH untuk menjalankan amanah-Nya itu yang dicari.

Di IIP saya merasa lebih nyaman, bertemu dengan sesama Ibu dari berbagai macam background  namun sama-sama sedang berjuang membimbing buah hati menjadi generasi yang ber-ahlakul kharimah ­ dan memiliki keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Komunitas yang anggotanya secara welcome mau menerima dan mau berbagi pengalaman serta ilmu mereka.

b.     Menjadi Fasilitator

Setahun yang lalu sekitar bulan Agustus, secara tiba-tiba saya diminta oleh teman-teman fasil untuk menggantikan teman yang mengundurkan diri karena alasan keluarga. Ya, di IIP kami diperbolehkan mengundurkan diri sebagai fasilitator bila keluarga terutama anak dan suami tidak mengizinkan. Karena, di dalam IIP izin dan ridho suami adalah keberkahan bagi seorang istri dalam menjalankan kegiatannya. Untuk menyanggupinyapun, saya harus mengantongi izin dari suami J  
Waktu itu saya diminta menjadi Penanggung Jawab Master Mind. Terlihat simple pekerjaannya, apalagi bila dibandingkan dengan amanah teman-teman yang lainnya,  namun ternyata banyak hal yang saya temui di lapangan eh di udara alias online. Berikut beberapa hal yang saya temui:
  1. Kondisi member dalam komunitas IIP Bandung
Bandung adalah kota yang potensial untuk maju dengan pesat. Banyak sekali komunitas-komunitas positif yang ada di Bandung. Sikap mau belajar dan haus ilmu terlihat sangat menonjol. Latar belakang member pun membuat dinamika tersendiri di dalam interaksi member meskipun itu cuma di dunia maya
  1. Tantangan-tantangan yang dihadapi saat menjadi PJ MM:
a.      Kondisi member berbeda-beda sifat dan sikap merupakan tantangan tersendiri. Karena, dalam dunia maya, terkadang perbedaan pengertian dari bahasa tulisan tiap orang bisa menjadi pemicu salah paham.
b.      Beberapa member yang tidak tepat waktu dalam menyetorkan Master Mind terkadang membuat saya harus mundur juga membuat resume dan akhirnya terlupa karena kesibukan saya yang lain (#manajemen waktu yang perlu diperbaiki)
c.    Sifat saya pribadi yang mudah empati menyebabkan saya menghabiskan waktu untuk obrolan pribadi tempat curhat tapi saya menyukai aktifitas ini, namun terkadang syamshine  jadi terabaikan. (lagi-lagi ketegasan dan manajemen waktu perlu saya perbaiki)
  1. Bakat yang sudah Allah berikan untuk saya, sehingga mendapatkan amanah ini . Setelah menelaah ST-30 saya pada NHW 7 ,saya menyimpulkan ptensi saya sebagai care taker yang berempati tinggi, comunicator dan educator lah yang menempatkan saya sebagai PJ MM.
  2. Di dalam komunitas, bakat yang saya miliki itu saya gunakan untuk memajukan orang lain agar bisa sama-sama maju kearah yang psitif dan memotifasi mereka untuk bisa mengoptimalkan potensinya masing-masing.
  3. Tahun depan,  karena Master Mind sudah tidak diadakan lagi, saya ingin merintis membuat rumah belajar untuk ibu-ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus agar lingkungan dan juga anak-anak bisa terbuka terhadap anak berkebutuhan khusus. Menularkan energi positif yang kepada mereka agar tetap berjuang demi amanah yang mereka emban dari ALLAH.  Karena "Allah tidak akan membebani kaumnya, melebihi kemampuannya"


Demikian aliran rasa yang saya miliki, saya merasa kontribusi saya dalam komunitas Institut Ibu Profesional memang belum maksimal. Apalagi saya masih fokus pada penataan di dalam iri dan keluarga saya sendiri. Seperti yang program Matrikukasi ini ajarkan, selesaikan dulu amanah di dalam baru keluar, sehingga kebermanfaatan dimulai dari diri pribadi, keluarga dan baru keluar rumah utnuk menyebarkan kebermanfaatan kepada masyarakat yang lebih luas lagi. Inside out.

Semoga ke depannya, saya bisa mensinergikan misi spesifik diri, misi keluarga dan misi komunitas. Saya bisa menjalankan amanah yang ALLAH berikan baik sebagai hamba-Nya, sebagai ibu, sebagai istri dan anggota masyarakat dengan sebaik-baiknya. Aamiin.


NHW#10_Fina Febiyanti_IIP Bandung



0 komentar:

Posting Komentar