Pages

Kamis, 08 Juni 2017

TANTANGAN KELAS BUNDA SAYANG IIP

TANTANGAN 10 HARI KOMUNIKASI PRODUKTIF

KELAS BUNDA SAYANG



KOMUNIKASI KELUARGAKU


Pengantar...
Sekilas angin ......

Saat pertama kali mendapat tantangan ini terus terang mipong blank
Yups, blank!
Dari materi yang diberikan, mipong diminta Komunikasi Produktif ke siapa dulu dan point yang mana dulu yang dilatih.

Ke anak or pasangan?

Nampaknya keduanya sama penting. Mipong butuh mengaplikasikan komunikasi produktif kepada my beloved hubby,   secara kerja di luar kota, pulang larut malam, waktu yang sedikit dan komunikasi yang kurang terkadang bisa menimbulkan riak riak kecil yang menerpa biduk keluarga kami. Lengkap sudah.
Apalagi akhir-akhir ini banyak hal yang dipikirkan...hmmm apa komprodnya ke beliau aja dulu gitu ya heuheu.

Lalu, tiba-tiba mipong ini ingat sepasang mata yang berbinar-binar, mata yang sering membuat mipong tergugah sekaligus bersemangat, Dan...mata itu adalah matanya. My beloved syamshine. My special son with his special characteristic. Ya, pada usianya yang 6 tahun ini, syamshines kemampuan berbahasanya masih dibawah usianya.  Bahasa gayanya Speech Delay, dengan diagnosis yang sampai hari ini gada yang sama dari beberapa dokter dan psikolog. 

Karena diagnosis yang berbeda-beda itu pula mipong bingung. 
Sampai berpikiran kenapa kalau di Indonesia, setiap ahli dari berbagai bidang berkompeten sebelum menjatuhkan diagnosis tidak berada dalam satu atap saja? 
Sebelum menegakkan diagnosis, mereka seharusnya mengobservasi dengan durasi panjang dan cermat (bukan cuma sejam) dan berdiskusi dulu baru memutuskan diagnosis seseorang. Ahli-ahli dari berbagai background  itu seharusnya saling mendukung dan mempelajari sebelum akhirnya ditegakkan sebuah diagnosis.
Sayangnya, yang mipong rasakan disini tidak begitu. Dengan durasi observasi yang hanya 1 jam, dokter dengan mudahnya memberikan diagnosis. Lalu kalau mau ke psikolog tempatnya beda, biaya yang diberikan juga beda lagi. Observasinya sejam juga dan diagnosis juga bisa langsung jatuh saat itu juga. Masing-masing dari mereka pun bisa saling menjatuhkan diagnosis masing-masing bila berbeda.

Padahal, di negara lain yang concern dalam pendidikan anak-anak special, para ahli itu sebelum memutuskan diagnosis saling bertemu, berdiskusi dan mengobservasi seseorang bisa sangaat lama. Kemudian mereka membuat jalur untuk memudahkan orangtua untuk program pendidikan selanjutnya,  parents support, lembaga pendidikan yang mendukung dan bagaimana memberikan edukasi kepada orangtua/keluarga tentang diagnosis yang dijatuhkan. Indonesia belum sampai ke situ. Bahkan pendidikan inklusi yang digembar gemborkan tidak sepenuhnya dimengerti dan diterima para pelakunya.

Sampai-sampai mipong bercita-cita mau buat sekolah yang benar-benar inklusi, sekolah umum yang bisa menerima anak-anak special sekaligus mengajarkan makna perbedaan dan berbagi kepada anak-anak yang katanya normal. Sambil diterapi mereka bisa sekolah. Di dalam sekolah itu, sebelum menegakkan diagnosis para ahli akan berada dalam satu atap dan saling bersinergi dalam menentukan diagnosis dan menyusun strategi selanjutnya. Harganya pun kalau bisa tidak terlalu mahal, karena selama ini, sekolah inklusi yang baik, identik dengan harga yang wah dan wah wah lainnya.
Ada ga ya yang bisa ngebantu buat sekolah seperti itu?

Loh loh kenapa jadi curhat hehehe.....

Lanjut, sementara ini, mipong mencoba fokus dulu mengajari syamshine sendiri dirumah dengan bermodalkan membaca dan video-video dari berbagai sumber. 

So... keputusannya mipong mencoba melakukan komunikasi produktif kepada syamshine kalau sama hubby , next. hehehhe

Lanjut. tantangan #day1


#level1
#day1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

 

Related Posts:

0 komentar:

Posting Komentar