TANTANGAN 10 HARI KOMUNIKASI PRODUKTIF
KELAS BUNDA SAYANG
KOMUNIKASI KELUARGAKU
Pengantar...
Sekilas angin ......
Sekilas angin ......
Saat pertama kali
mendapat tantangan ini terus terang mipong blank.
Yups, blank!
Dari materi yang
diberikan, mipong diminta Komunikasi Produktif ke siapa dulu dan point yang
mana dulu yang dilatih.
Ke anak or pasangan?
Nampaknya keduanya
sama penting. Mipong butuh mengaplikasikan komunikasi produktif kepada my
beloved hubby, secara kerja di luar kota, pulang larut malam, waktu
yang sedikit dan komunikasi yang kurang terkadang bisa menimbulkan riak riak
kecil yang menerpa biduk keluarga kami. Lengkap sudah.
Apalagi akhir-akhir
ini banyak hal yang dipikirkan...hmmm apa komprodnya ke beliau aja dulu gitu ya
heuheu.
Lalu, tiba-tiba mipong
ini ingat sepasang mata yang berbinar-binar, mata yang sering membuat mipong
tergugah sekaligus bersemangat, Dan...mata itu adalah matanya. My beloved
syamshine. My special son with his special characteristic. Ya, pada usianya
yang 6 tahun ini, syamshines kemampuan berbahasanya masih dibawah
usianya. Bahasa gayanya Speech Delay, dengan diagnosis yang sampai
hari ini gada yang sama dari beberapa dokter dan psikolog.
Karena diagnosis yang
berbeda-beda itu pula mipong bingung.
Sampai berpikiran
kenapa kalau di Indonesia, setiap ahli dari berbagai bidang berkompeten sebelum
menjatuhkan diagnosis tidak berada dalam satu atap saja?
Sebelum menegakkan
diagnosis, mereka seharusnya mengobservasi dengan durasi panjang dan cermat
(bukan cuma sejam) dan berdiskusi dulu baru memutuskan diagnosis seseorang.
Ahli-ahli dari berbagai background itu seharusnya saling mendukung
dan mempelajari sebelum akhirnya ditegakkan sebuah diagnosis.
Sayangnya, yang mipong
rasakan disini tidak begitu. Dengan durasi observasi yang hanya 1 jam, dokter
dengan mudahnya memberikan diagnosis. Lalu kalau mau ke psikolog tempatnya
beda, biaya yang diberikan juga beda lagi. Observasinya sejam juga dan
diagnosis juga bisa langsung jatuh saat itu juga. Masing-masing dari mereka pun
bisa saling menjatuhkan diagnosis masing-masing bila berbeda.
Padahal, di negara
lain yang concern dalam pendidikan anak-anak special, para ahli
itu sebelum memutuskan diagnosis saling bertemu, berdiskusi dan mengobservasi
seseorang bisa sangaat lama. Kemudian mereka membuat jalur untuk memudahkan
orangtua untuk program pendidikan selanjutnya, parents support, lembaga
pendidikan yang mendukung dan bagaimana memberikan edukasi kepada
orangtua/keluarga tentang diagnosis yang dijatuhkan. Indonesia belum sampai ke
situ. Bahkan pendidikan inklusi yang digembar gemborkan tidak sepenuhnya
dimengerti dan diterima para pelakunya.
Sampai-sampai mipong
bercita-cita mau buat sekolah yang benar-benar inklusi, sekolah umum yang bisa
menerima anak-anak special sekaligus mengajarkan makna perbedaan dan berbagi
kepada anak-anak yang katanya normal. Sambil diterapi mereka bisa sekolah. Di dalam
sekolah itu, sebelum menegakkan diagnosis para ahli akan berada dalam satu atap
dan saling bersinergi dalam menentukan diagnosis dan menyusun strategi
selanjutnya. Harganya pun kalau bisa tidak terlalu mahal, karena selama ini,
sekolah inklusi yang baik, identik dengan harga yang wah dan wah wah
lainnya.
Ada ga ya yang bisa ngebantu buat sekolah seperti itu?
Ada ga ya yang bisa ngebantu buat sekolah seperti itu?
Loh loh kenapa jadi curhat hehehe.....
Lanjut, sementara ini, mipong mencoba fokus dulu mengajari syamshine sendiri dirumah dengan bermodalkan membaca dan video-video dari berbagai sumber.
So... keputusannya mipong mencoba melakukan komunikasi produktif kepada syamshine kalau sama hubby , next. hehehhe
Lanjut. tantangan #day1
Lanjut, sementara ini, mipong mencoba fokus dulu mengajari syamshine sendiri dirumah dengan bermodalkan membaca dan video-video dari berbagai sumber.
So... keputusannya mipong mencoba melakukan komunikasi produktif kepada syamshine kalau sama hubby , next. hehehhe
Lanjut. tantangan #day1
0 komentar:
Posting Komentar